Langsung ke konten utama

Nanggroe Aceh Darussalam's Relationship with Turkey

Aceh Darussalam had diplomatic relations with the Ottoman Empire, including in order to seek help to repel colonialism by the Portuguese who at that time monopolized trade and were considered dangerous for the development of the Aceh sultanate. The Aceh Sultanate began to have diplomatic relations with Ottoman Turkey since the 16th century.

Aceh has on several occasions sent envoys to Istanbul to ask for military assistance. They transported the products of trade commodities, especially pepper, to be offered to the sultan. As a result, Turkey sent instructors, soldiers, and weapons to Aceh to fight the invaders. Thus, Nanggroe Aceh Darussalam established political relations with the Ottoman Empire in order to seek help in expelling the Portuguese who monopolized trade and were considered enemies in the field.

Harmonization between Aceh and Turkey still has historical evidence until now such as the tomb of Tgk. Dibitai (Salahaddin). In addition to the desire to help Aceh as a brother, friend, the Ottomans also had other interests, namely in the sectors of economic interests and the field of education. So in this case, the past until now shows that relations or relations between Turkey and Aceh are still inherent since the time of the Aceh sultanate until now.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"KESEJAHTERAAN RAKYAT ACEH DIPERTANYAKAN ?

Indonesia memang mengalami tantangan besar dalam perekonomian, terutama pasca-pandemi COVID-19 yang memperburuk kondisi ekonomi banyak daerah, termasuk Aceh. Meskipun Aceh memiliki potensi yang besar, baik dari segi sumber daya alam maupun sumber daya manusia, namun berbagai faktor telah menyebabkan provinsi ini tertinggal dibandingkan dengan provinsi lainnya. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap keadaan ini antara lain: Ketidakstabilan Politik: Perubahan arus politik dan dinamika kekuasaan di Aceh sering kali menghambat perkembangan daerah. Konflik politik dapat mengalihkan perhatian dari pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Kurangnya Infrastruktur yang Memadai: Meskipun Aceh memiliki kekayaan alam yang melimpah, infrastruktur yang kurang memadai dapat menghambat distribusi sumber daya dan produk-produk lokal. Transportasi dan akses ke pasar menjadi masalah besar, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. Kurangnya Investasi: Dalam beberapa tahun t...

RADIKALISME DAN POLITIK IDENTITAS

Tantangan besar yang dihadapi Indonesia saat ini, khususnya terkait dengan radikalisme dan politik identitas, membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen bangsa. Beberapa isu penting yang harus dibahas lebih mendalam antara lain: 1. Radikalisme di Indonesia: Ancaman terhadap Keharmonisan Sosial Radikalisme adalah salah satu ancaman terbesar yang bisa merusak stabilitas negara dan meretakkan persatuan bangsa. Penyebab radikalisasi sangat beragam dan kompleks—mulai dari ketimpangan sosial, pengaruh kapitalisme, kemiskinan, hingga pemahaman agama yang kurang mendalam. Untuk mengatasi ini, kita perlu melihat hubungan antara sistem ekonomi, pendidikan, dan kebijakan publik yang membentuk pola pikir masyarakat. Penyelesaian masalah ini memerlukan pendekatan holistik dan integratif agar dampaknya bisa diminimalkan. 2. Pemuda: Sasaran dan Harapan dalam Perubahan Sosial Pemuda adalah kelompok yang sangat rentan terhadap ideologi radikal, mengingat mereka berada dalam fase pencarian jati ...

Nilai, Moral Dan Hukum

Manusia, nilai, moral, dan hukum merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Masalah-masalah serius yang dihadapi bangsa Indonesia berkaitan dengan nilai, moral, dan hukum antara lain mengenai kejujuran, keadilan, menjilat, dan perbuatan negatif lainnya sehingga perlu dikedepankan pendidikan agama dan moral karena dengan adanya panutan, nilai, bimbingan, dan moral dalam diri manusia akan sangat menentukan kepribadian individu atau jati diri manusia, lingkungan sosial dan kehidupan setiap insan. Pendidikan nilai yang mengarah kepada pembentukan moral yang sesuai dengan norma kebenaran menjadi sesuatu yang esensial bagi pengembangan manusia yang utuh dalam konteks sosial. Pendidikan moral tidak hanya terbatas pada lingkungan akademis, tetapi dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Secara umum ada tiga lingkungan yang sangat kondusif untuk melaksanakan pendidikan moral yaitu lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat. Peran keluarga dalam pendidikan m...