Malem Dagang adalah tokoh utama dalam “Hikayat Malem Dagang”, seorang panglima tertinggi yang diangkat Sultan Iskandar Muda di Jambo Aye untuk memimpin penyerangan terhadap Kerajaan Johor. Tokoh lain yang menonjol perannya dalam hikayat ini adalah Panglima Pidie dan Ja Pakeh atau Ja Madinah sebagai penasehat perang. Menurut syair dalam Hikayat Malem Dagang (HMD), pada suatu ketika suami-isteri Raja Raden dan Putroe Phang (Puteri Pahang) datang ke Aceh menjumpai Sultan Iskandar Muda untuk memeluk agama Islam. Selama di Aceh Raja Raden menceraikan Putroe Phang dan kawin dengan Putroe Ijo (Puteri Hijau) yang merupakan adik sultan, sementara Sultan Iskandar Muda sendiri menikah dengan Putroe Phang. Setelah tiga tahun berlalu, datanglah ke Aceh adik Raja Raden yang bernama Raja Si Ujud untuk menjemput abangnya pulang ke Johor. Raja Raden menolak pulang ke Johor karena sudah betah di Aceh. Akibatnya terjadilah pertengkaran mulut yang disertai caci-maki dan saling tempelak (timplak) antara dua bersaudara ini.Setelah Raja Raden menggertak akan membunuhnya barulah Raja Si Ujud terdiam, tapi marahnya tetap membara. Dalam perjalanan pulang ke Johor bersama pasukannya, Raja Si Ujud telah membakar Ladong dan Krueng Raya, merusak pasar, membunuh nelayan dan pawang laut, membakar rumah-rumah penduduk dan menyiksa orang-orang Aceh yang tidak bersalah.
Sultan Iskandar Muda amat marah dengan tindakan keji ini. Beliau bangkit untuk menebus penghinaan yang telah dilakukan Raja Si Ujud dengan mengerahkan seluruh kekuatan Aceh untuk memerangi Si Ujud ke negeri Johor ( di Malaysia sekarang), sehingga ia tertangkap dan dibunuh sampai mati. Kisah dalam HMD ini diakui dalam buku-buku sejarah, baik yang terbit di Aceh maupun terbitan Malaysia. Dalam buku Sejarah Johor dan buku Sejarah Pahang yang ditulis Haji Buyong Adil, menyebutkan peristiwa ini terjadi pada tahun 1613 dan 1615. Menurut sejarah, penyerangan Sultan Iskandar Muda ke Johor karena telah “berselingkuhnya” kerajaan Johor dengan Portugis yang telah menaklukkan Malaka tahun 1511. Sejak Portugis menguasai Malaka, sudah berkali-kali nenek moyang(Aceh: indatu) Sultan Iskandar Muda menyerang Portugis ke sana.
Nama asli Raja Si Ujud adalah Raja Mansur dan setelah menjadi Sultan Johor bergelar Sultan Alauddin Riayat Syah III. Nama asli Raja Raden ialah Raja Abdullah dengan gelar Raja Bungsu atau Raja Seberang dan sewaktu menjadi Raja Johor bergelar Sultan Abdullah Ma’ayat Syah. Malem Dagang yaitu seorang panglima perang asal wilayah Meureudu, dan makamnya masih dapat ditemui saat ini di Meunasah Ulim Tunong, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Ja Pakeh ialah seorang ulama asal Madinah yang menetap di Meureudu. Ia meninggal di Meureudu. Kuburannya dekat Mesjid Madinah Meureudu, Pidie Jaya.
Faktor-faktor yang menentukan Malem Dagang layak dijadikan seorang panglima, yaitu seperti yang diucapkan oleh Panglima Pidie sebagai berikut:
Terjemahan:
Tuanku angkatlah Malem Dagang, memimpin perang sudah biasa!
Malem Dagang, Tuanku, sangat disegani, bagi kaumnya dialah panglima!
Malem Dagang ditakuti, kumisnya lebat, mukanya bundar
Penampilannya pun sangat rupawan, suara menawan menimbang rasa
Banyak wali, saudara dan karong (sanak saudara), banyak yang tolong sang panglima
Pada saat jalannya peperangan, sebagai panglima perang Malem Dagang dalam beberapa kondisi tertentu ia selalu berkoordinir dengan Ja Pakeh dan Iskandar Muda, sebelum mengeluarkan perintah berperang kepada para pasukan.
Ia juga menyemangati para pasukan,agar tidak gentar di medan perang. Berikut ini terjemahannya:
Terus berkata Malem Dagang, panglima perang yang amat perkasa
“Di manakah Anda wali dan karong, mendekatlah padaku wahai Saudara!
Jika ada peruntungan di kemudian hari, bisa kukenali yang teguh setia
Supaya tepat mencari kawan, kusuruh berbesan yang imbang setara!
Mendekatlah kakanda jauhari, kuikat janji dengan Kakanda!
Aku berjanji sepenuh hati, dengan minum air keris alat senjata!
Barang siapa tinggalkan peperangan, agar peluru terjang tubuh Anda!
Ketika banyak pasukannya yang tewas dalam peperangan, ia berusaha untuk tetap mempertahankan para tenteranya agar tidak mundur/lari dari medan perang.
Terjemahan:
Dengarlah kawan kabar pengingat, kata amanat yang rahasia!
Mati di kiri, mati di kanan, jangan sebutkan, isyarat tanda!
Gugur di depan, gugur di belakang, janganlah undur, jangan diriuhkan!
Mana yang mati biarlah rebah, yang masih hidup maju ke muka!
Tentang waktu penulisan HMD hampir semua ilmuwan yang pernah mengkaji HMD sependapat, bahwa hikayat ini ditulis pada akhir abad ke 17 atau tidak berapa jauh masa dari terjadinya peristiwa, yaitu masih dalam abad ke 17.
Memang benar HMD adalah hikayat lama atau hikayat paling tua dalam bahasa Aceh. Setelah membaca berpuluh-puluh hikayat, ada satu hal aneh yang saya jumpai dalam HMD. Bahwa setiap tokoh dalam cerita ini selalu diulang-ulang penyebutan karakternya.
Hikayat-hikayat yang ditulis kemudian ciri aneh seperti itu tidak dipakai lagi karena cukup membosankan bagi pembaca dan penyimaknya.
Misal: 1) Raja Raden ureueng got baten teugoeh seutia ( Raja Raden orang baik batin teguh setia), 2) Panglima Pidie ureueng nyang ghie nibak raja ( Panglima Pidie orang yang hebat pada raja). 3) Ja Pakeh guree nyang leubeh ulama raya ( Ja Pakeh guru yang lebih ulama besar. Ja = khoja, gelar seorang ulama asal bahasa Parsi/Iran). 4) Malem Dagang panglima prang gagah peukasa( Malem Dagang panglima perang gagah perkasa). Karakter demikian, terus diulang-ulang mulai awal sampai tamat hikayat.
Mengenai siapa pengarang HMD hingga hari ini belum jelas. Walaupun A. Hasjmy pernah menyebutkan bahwa pengarang HMD adalah Teungku Pante Geulima ( lihat: A. Hasjmy, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, Penerbit Beuna, Jakarta, 1983, halaman 390) yang menulis pada tahun 1055 H (1645 M), namun dalam karya yang lain A.Hasjmy mengatakan ( lihat: L.K. Ara, dkk, “Seulawah Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas”, Yayasan Nusantara, Jakarta, 1995, halaman 524 – 541) HMD ditulis oleh Teungku Ismail bin Ya’kub dengan gelar Teungku Pante Geulima pula yang menulis pada tahun 1309 H (1889 M).
Nama pengarangnya memang sama, yaitu Teungku Pante Geulima, namun yang seorang Teungku Pante Geulima di abad 17 dan satu lagi Teungku Pante Geulima di akhir abad 19. Jadi, jelas berbeda orangnya. Perbedaan pendapat dari seorang penulis terhadap objek tulisan yang sama tentu tidak dapat dijadikan suatu pegangan dan masih diragukan kebenarannya. Satu hal lagi yang perlu diingat, bahwa hikayat itu bukanlah murni sejarah, sehingga perlu dikaji untuk memilih-memilah antara sejarah dengan legenda.
T.A. Sakti (Penulis Tesis mengenai Hikayat Malem Dagang di Pascasarjana UIN Ar-Raniry, dengan judul “Historiografi Lokal di Aceh – Studi Terhadap Hikayat Malem Dagang” 2015), Imadul Auwalin (Pecinta Sejarah Aceh) melaporkan dari Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh.
Komentar